Monday, December 28, 2009

UTRUK MAA SIWA DARS

Sudah tiga hari saya bercengkrama dengan soal-soal ujian akhir semester ganjil - atau ujian nisfu sanah dalam bahasa pondoknya. Ingatan saya kembali ke masa silam; masa saya ditempa dengan berbagai pendidikan pesantren modern..

Ingatan saya ini mengajak tangan saya untuk bernostalgia; mengenang suatu masa yang sungguh sarat makna.

Ada sebuah ungkapan yang wajib ada setiap ujian dilaksanakan. Ungkapan tersebut adalah, utruk maa siwa dars. Maksudnya tinggalkan apapun kecuali pelajaran. Realisasi dari ungkapan ini, koran yang biasa terpajang di etalase tidak lagi mejeng di etalase tersebut. Begitu juga Castra, korannya santri ketika itu dilarang terbit. Buku-buku bacaan umum juga dilarang dibaca. Hanya satu bacaan yang boleh dan harus dibaca para santri ketika itu "buku pelajaran".

Kemana-mana buku harus selalu dibawa. Tak peduli mau ke kamar mandi, mau thaabur di dapur, jajan di kantin, atau pergi ke masjid. Pokoknya, kemanapun buku harus selalu ditemani buku. Kalau tidak, berarti kuping harus kuat mendengar omelan asatidz dan sedikit jewerannya. Ungkapan, "khairu jaliisin fizzamaani kitaabun," menjadi sangat laris dan selalu menghiasi setiap nasihat asatidz yang selalu menekankan agar kita membawa dan membaca buku.

Tadi saya katakana sedikit jeweran - padahal kadang-kadang banyak juga jewerannya . Dulu jeweran adalah hal yang biasa dan kerap dijadikn alat peringatan untuk para santri, seperti misalnya, ada yang ketahuan berbicara bahasa Indonesia langsung dipanggil dan dijewer, tapi karena itulah para santri cepat mampu berbicara bahasa Arab dan Inggris. Dulu, tidak pernah ada santri yang mengadu ke orangtua karena di jewer atau lapor polisi karena kasus kekerasan guru seperti zaman sekarang banyak terjadi.

Kembali lagi ke pembicaraan tentang suasana ujian. Kalau tadi saya bercerita tentang pemandangan pagi dan siang hari, dimana para santri selalu lengket dengan buku ini saya akan bercerita tentang suasana malam harinya.

Dari pukul 20.00-22.00 guru-guru mengawasi kegiatan belajar mandiri santri. Mereka menegur siapapun yang ngantuk dan menjawab pertanyaan-pertanyaan santri tentang pelajaran yang belum difahaminya.

Ada yang lucu dan selalu teringat tentang masalah ngantuk ini. Jika ketahuan ada santri yang tidur bukan pada waktunya-dan banyak yang ketahuan - mereka dibariskan dan disuruh lari mengitari pondok, dipimpin oleh seorang dari merka dengan meniup peluit, sedangkan yang lain berlari sambil membawa bantal atu kasur .

Aktifitas pagi saat ujian di Pondok mulai dari pukul 02.00 atau bahkan kurang. Pada masa-masa ujian, biasanya pagi di pondok hadir secara prematur. Teriakan-teriakan santri yang menghafal pelajaran memecah sunyi. "Man jadda wajada; man saara ala darbi washala; kaana muhammadun naiman fii firaasihi syair-syair yang biasanya mengiasi kelam malam.

Mereka bangun malam karena merasa belum siap menghadapi ujian besok hari. Ya, masuk ruang ujian harus siap dengan persiapan matang. Kalau tidak, gagal. Gagal karena di pondok tidak boleh menyontek, bahkan haram hukumnya. Sempat ada yang ketahuan, kertas jawabannya langsung dirobek dan dia diberdirikan di belakang tulisan besar, "SAYA MENYONTEK". Dijamin malu deh, karena dilihat banyak orang.

Begitulah ujian di pondok. Prestasi menjadi prioritas ketimbang prestise semata.Saya paham sekarang bahwa prestasi selalu membawa prestise, sedangkan prestise saja tidak mesti membuahkan prestasi. Lihat contoh misalnya dalam kasus UN yang-menurut saya- mementingkan prestise dengan menaikkan standar kelulusan. Angka-angka besar yang ada di ijazah belum tentu menunjukan prestasi belajar siswa, karena banyak sekali rekayasa dan secara tidak langsung menumbuhkan bibit kecurangan dan ketidak jujuran ketika JUJUR itu mahal. Tapi di pondok, nilai 2, 3, 4, 5 bahkan 1 di rapot ketika itu adalah biasa. Angka-angka tersebut mendeskripsikan prestasi belajar santri sesungguhnya.

Begitulah pendidikan di pondok. Sungguh sarat nilai, bukan? Mudir pondok dulu selalu mengulang-ngulang pernyatannya dalam setiap pertemuan pecan perkenalan 'khtubatul arsy', dia mengatakan, "Anak-anakku, apapun yang kamu lihat, kamu dengar, kamu rasakan di pondok ini adalah pendidikan. Makanya laksanakan dengan kesungguhan."

Saya kira semua merasa, ketika sedang ujian (UTS/UAS bagi yang kuliah) merasa canggung kalau mau nyontek. Hal itu karena kebiasaan di pondok yang tertanam di jiwa setiap kita.

Nilai-nilai inilah yang mesti dipertahankan karena sisi positifnya. Bersyukur saya pernah merasakan pendidikan ala pondok modern, meski tidak harus pergi ke Gontor Ponorogo.

Udah dulu ya, nostalgianya. Lain kali disambung lagi dengan cerita-cerita yang lebih seru lainnya.

11 Desember 2009
Oleh Cepi Supriatna

No comments:

Post a Comment